Eksistensi Jamu di Kalangan Millenial? Susah Sekali!

Yogyakarta - Jamu merupakan unsur budaya yang mulai pudar. Jamu perlu diperbarui dan diinovasi kembali sesuai dengan kehidupan milenial saat ini. Jamu dapat membuka peluang besar dalam aspek perekonomian, budaya dan kesehatan untuk terus berkembang.

 “Kita harus berupaya untuk menjadikan jamu tidak sekedar kuno tapi jamu bisa dinikmati oleh masyarakat milenial” ungkap Prof. Sudarsono dalam acara Talkshow “Menjamu Dijamu” (15/11).

“Jika tidak kita lestarikan jamu bisa disentuh oleh negara asing, alhasil kita sendiri nantinya yang akan merugi” lanjut Prof. Sudarsono memperjelas.

Beliau juga mengatakan bahwa jamu tidak hanya minuman kesehatan saja, tapi sebagai tempat wisata untuk memperkenalkan bahwa jamu tidak kuno dan justru jamu sebagai kekayaan budaya. Wisata jamu memperlihatkan bagaimana cara membuat jamu dengan baik dan benar serta bagaimana penyajian jamu.

Perkembangan teknologi yang pesat membuat semakin banyak terobosan dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas jamu di pasaran. B2P2TOOT telah berhasil menguji jamu secara ilmiah dengan program saintifikasi agar bahan-bahan jamu menjadi resep rujukan.

“Saya berharap dengan adanya BPOT dapat menjadikan jamu sebagai tuan rumah di sini dan sebagai tamu di luar sana” ungkap Dr. Ulfa salah satu Dokter B2P2TOOT.

Klinik saintifikasi terletak di Tawangmangu, Jawa Tengah yang menyediakan pengobatan dengan jamu secara uji klinik. Program ini melibatkan dokter, tenaga kesehatan Puskesmas dan Rumah Sakit di Jawa Tengah. 

Disisi lain sebuah inovasi baru telah dilakukan oleh pelaku usaha yang kerap disapa Pak joni ini. Beliau berhasil membuat inovasi baru dalam bentuk penyajian kafe berbahan dasar jamu. Kafe tersebut diberi nama “Acaraki” yang juga ikut berpartisipasi dalam acara Menjamu Dijamu di Yogyakarta. 

Acaraki adalah sebuah kedai jamu yang menyuguhkan berbagai minuman jamu yang dikemas dengan modern dan rasa yang dapat memikat para pecinta jamu. Acaraki memperkenalkan kepada kalangan milenial bahwa tak hanya kopi saja yang bisa dinikmati dengan berbagai bentuk penyajian. Namun, jamu juga bisa dinikmati dan bersaing di industri. 

Seperti yang dikatakan Pak Joni “Bahwasanya kopi, teh, beer, whisky, dan minuman lainnya bisa dijadikan minuman modern, mengapa jamu tidak? maksudnya, kopi dan minuman lainnya tersebut sudah ada sejak dulu begitupun dengan jamu. Acaraki mencoba mempraktekan kedai jamu seperti halnya kedai kopi. Dimana kita juga memiliki 8 cara penyeduhan seperti V60, Pour over, Rok presso, lairesso, Infusion, French Press, Aeropress, Syphon, Moka pot dan Cold drip. Kami terus berinovasi dan terus mengembangkan jamu agar menjadi lifestyle di semua kalangan” 

Begitu juga dengan Alex Abbad aktor sekaligus presenter, mengembangkan sayapnya di dunia jamu sudah ia tekuni selama 6 tahun belakangan ini. Berbeda dengan artis lainnya yang menjual produk  modern, Alex Abbad memilih untuk mengemas produk jamu. Berawal dari racikannya sendiri bersama keluarganya Alex Abbad mulai mengenalkan jamu kepada teman-temannya di tongkrongan. Namun, siapa sangka jika racikannya disukai banyak orang. Bahkan ada beberapa temannya yang ingin memesan kembali. Hal ini yang membuat Alex merasa tertarik untuk memasarkan jamu racikannya sendiri. 

“Setelah beberapa kali akhirnya mereka memesan lagi, ‘gue harus balik kampung dulu untuk membuatnya’, tapi mereka ‘ya gak papa, ntar kita yang bayar ongkos kirimnya’,” ungkapnya sambil tersenyum. 

Dari situ Alex bingung menentukan harga dan memasarkan produknya. Ia belum bisa memperkirakan berapa biaya produksi jamunya. 

“Jadi saya sampai sekarang belum tau berapa harga yang pas untuk jamu yang buatan saya sendiri” katanya sambil tertawa kecil. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secuil Kisah Di Pagi Hariku

Buku: Jendela Dunia?

Inginku