Mevrouw Jans, Menduniakan Jamu Nusantara pada Zaman Hindia-Belanda
“Rasa sakit kehilangan sang anak
mendorong Jans menulis buku tentang jamu yang dijadikan pegangan oleh orang
Eropa di Hindia-Belanda. Jans membumikan jamu Nusantara dengan penelitian dan
praktik pengobatan herbalnya. Hal tersebut membuat nama Jans dikenang sebagai
orang pertama asing yang membawa jamu Indonesia mendunia”
Mevrouw Jans memiliki nama lengkap
Johanna Maria Carolina Versteegh. Ia lahir di Soekamangli, 16 Mei 1862. Ayahnya
bernama Carolus Bartholomeus Versteegh yang merupakan seorang administrator
sekaligus pemilik perkebunan Kopi di Waleri, Jawa Tengah. Ayahnya juga dikenal
sebagai “Raja Kopi Jawa”. Ibunya bernama Albertina Margaretha Van
Spreeuwenburg. Jans menghabiskan masa kecilnya di pedesaan yang jauh dari kota
besar dan hal tersebut membuatnya lebih akrab dengan lingkungan alam.
Jans sempat menempuh pendidikan di
Sekolah Suster Ursulin, sekolah ternama dan berstandar tinggi pada masa itu
yang berada di Batavia. Sayangnya, panen kopi gagal yang membuat Jans harus
untuk kembali ke desa karena orang tuanya tidak mampu membiayai sekolahnya.
Kembali ke desa tidak membuat Jans berkecil hati. Jans memilih untuk menemani
ibunya memetik dan merawat tanaman obat yang pada akhirnya membuat Jans
mencintai jamu.
Pada zaman dulu, di pedalaman desa
Hindia-Belanda, akses kesehatan susah ditemukan. Akhirnya, Jans ditugaskan
untuk menjaga dan merawat kesehatan para pekerja perkebunan. Selama itu, Jans
belajar tentang berbagai perawatan penyembuhan alternatif yang disebut dengan
ramuan jamu tradisional. Sedangkan Ibunya, kerap mengobati orang-orang sekitar
dengan teknik pengobatan tradisional, khususnya jamu. Dari situlah Jans hari
demi hari belajar dan mencari tahu manfaat dari setiap tanaman herbal untuk
mengikuti jejak Ibunya.
Pada tahun 1881, Jans menikah dengan
pemuda Belanda yang bernama Herman Kloppenburg. Setelah menikah ia memutuskan
untuk tetap tinggal di Semarang. Rumah besar nan megah membuat para orang
menganggap rumah Jans sebagai rumah paling indah kala itu karena merupakan
kawasan orang-orang Eropa yang kaya raya.
Akhirnya Jans dikaruniai 11 anak: enam
putri dan lima putra. Namun, putri tertuanya Tina meninggal pada usia 14 tahun
lantaran sakit. Diagnosa dokter satu dengan lain berbeda-beda, ada yang
menyebutkan Tina meninggal karena malaria ada pula yang menyebut Tina meninggal
karena tifus. Kematian Tina mendorong Jans menulis buku tentang jamu dan
tanaman obat di Hindia-Belanda. Jans menulis buku tanpa pretensi ilmiah,
melainkan informasi seputar resep jamu, kegunaan, dan khasiat tanaman obat yang
ada di lingkungan sekitar. Informasi dan bahan yang Jans dapat tidak lebih dari
para dukun, penjual obat di pasar, ataupun bertanya pada penduduk
sekitar.
Adapun banyak pengobatan penyakit yang
dijelaskan dalam buku Jans, mulai dari perawatan rambut dan kecantikan,
penanganan demam, malaria, pegal linu, batuk dan banyak lainnya. Jans tidak
hanya menggunakan empon-empon saja melainkan juga dedaunan. Beberapa karya buku
Jans sebagai berikut.
- Buku pertama Jans dicetak
tahun 1907 yang berjudul "Indische planten en haar geneeskracht (Tanaman India dan Kekuatan Penyembuhan Lara)".
- Tahun 1911, menyusun “Atlas
van Indische geneeskrachtige planten bij Raadgevingen betreffende het
gebruik van Indische planten, vruchten enz (Atlas Tanaman
Obat Hindia tentang Petunjuk dan Saran Penggunaan Tanaman India,
Buah-Buahan)”
- Tahun 1913, menerbitkan "Het leven van de Europeesche vrouw in Indie (Kehidupan Wanita Eropa)"
- Tahun 1940, merespon solusi untuk penyakit
dalam buku “Komentar tentang ‘Petunjuk dan Saran’ saya mengenai penggunaan
tanaman India, buah-buahan dll”
Jans sempat mengalami masa pengobatan
tradisional dipertentangkan dengan pengobatan modern. Jans juga mengalami
ketika para Dokter Barat tidak menyukai pengobatan pribumi tersebut. Namun,
Jans dan sejumlah tabib tetap melakukan praktik yang menjadikan nama Jans
semakin dikenal banyak orang.
Setelah namanya melambung tinggi Jans
ditunjuk sebagai Presiden Asosiasi Perawat St. Elizabeth di Semarang (1905). Ia
juga merupakan anggota Gerakan Kesadaran Etika (Kebijakan Kerajaan Belanda yang
disebut Kebijakan Etis). Bahkan, namanya diabadikan menjadi sebuah salah satu
nama jalan di Belanda.
Selamat Mengenang!

Komentar
Posting Komentar