BULAN PRAM DI TAMAN BACA KESIMAN


DENPASAR – Pramoedya Ananta Toer merupakan tokoh legendaris yang memiliki intelektual tinggi dan pemahaman akan bangsa yang begitu luas. Karyanya mampu membawanya hingga mendunia. Naasnya, banyak karyanya yang harus dibungkam, dibredel, hingga dibuang oleh rezim pada saaat itu. Itulah mengapa adanya Taman Baca Kesiman sebagai bentuk apresiasi untuk mengenang perjuangan Pramoedya Ananta Toer dan mempelajari serta mengambil hikmah dari kejadian yang telah terjadi. 

Begitulah alasan diadakannya acara peringatan kelahiran sastrawan legendaris indonesia Pramoedya Ananta Toer di Taman Baca Kesiman dengan tema “Bulan Pram” pada tanggal 6 Februari 2019.  Berbagai acara yang dilaksanakan dalam “Bulan Pram” Taman Baca Kesiman (TBK) dapat menarik perhatian dari beberapa sudut kota dan berbagai kalangan di Bali khususnya. Acara yang melibatkan sastrawan Indonesia sekaligus aktivis Indonesia yang kehidupanya dijadikan tolak belakang lahirnya Taman Baca Kesiman. 

“Saya mengadakan acara Bulan Pram di Taman Baca ini karena saya ingin masyarakat Bali tahu bahwa Pram adalah cendekiawan dan sastrawan Indonesia yang separuh hidupnya menderita tapi Beliau masih memiliki semangat hidup dan membela kebenaran yang kuat melalui karyanya. Selain itu agar anak muda sekarang mengenal sesosok Pram dan karya-karya Pram” ujar Ji Alit pemilik Taman Baca Kesiman.

Sebuah acara besar yang berlangsung selama satu bulan penuh ini dihadiri dan dimeriahkan oleh beberapa musisi terkenal dari Bali, salah satunya band Nosstress. Selain musisi juga melibatkan beberapa penulis dari Bali dan luar Bali. 

Serangkaian acara yang berlangsung diantaranya, live mural oleh 9 seniman Bali yang nantinya karya meraka dipamerkan di sudut-sudut tempat di Taman Baca Kesiman selama “Bulan Pram” berlangsung. Selain itu juga ada acara Bincang Sore yang bertema “Anak Muda Ngobrol Pram”. Lima anak muda dan satu moderator yang sudah dipilih untuk berbincang tentang Pram dan sisi lain Pram. Hal yang diobrolan merupakan mengidentifikasi isi buku dari karangan Pramoedya yang sudah pernah dibaca oleh pembicara. Selanjtnya, dilanjutkan acara Live Music. Acara ini sifatnya lebih bebas dan santai karena acara hanya jamming music oleh beberapa band indilokal Bali dan salah satu musisi Bali, seperti Gunawarma personil “Nosstress”. Jamming Music ini sekaligus merupakan penutup dari acara hari pertama (6/2).

Di acara berikutnya, Taman Baca Kesiman mengundang penulis Muhammad Ridha yang berasal dari Sulawesi untuk membedah buku karangannya yang berjudul “Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik”. Acara ini membahas bagaimana pemerintah membangun infrastruktur yang ada di Indonesia dengan baik tapi juga memperhatikan ekowisata yang ada di sekitar dan tanpa mengorbankan lahan yang tidak seharusnya digunakan (10/2).

Dilanjutkan di acara berikutnya Pemutaran Film dari Komunitas Festival Fim Dokumenter berkolaborasi dengan CineCoda dan Taman Baca Kesiman yang berjudul “Lakardowo Mencari Keadilan”. Film dokumenter ini menunjukan betapa pentingnya kita mengetahui masalah yang ada di sekitar kita hingga menimbulkan dampak yang serius seperti Desa Lakardowo. Selain itu, kita ajarkan untuk menumbuhkan jiwa kemanusiaan kita terhadap masalah-masalah dan isu-isu yang terjadi di lingkungan sekitar kita (15/2)

Acara masih berlanjut dengan Pemutaran Film & Diskusi “Sekeping Kenangan”. Film dokumenter ini menceritakan tentang proses awal pembuatan album kompilasi Prison Songs: Nyanyian yang dibungkam. Karya yang digarap oleh komunitas Taman 65 Bali ini dimaksudkan untuk melakukan pengarsipan sejarah melalui dialog dengan pencipta atau yang terlibat dengan tembang-tembang dari penjara Pekambingan-Denpasar untuk merekam ingatan-ingatan yang mulai tergusur termakan waktu dan tertekan arus pembutaan sejarah oleh rezim yang berkuasa (21/2).



Menuju acara puncak “Bulan Pram” acara dari Taman Baca Kesiman ini mengundang penulis dari Bali yaitu I Ngurah Suryawan yang bertema “La Ngorta Berbincang Bersama Penyair”. Dalam acara ini menggali perjalanan sosok I Ngurah Suryawan sebagai seorang pencerita yang telah memberikan berbagai ceritanya kepada publik. Selain itu, pembicara bercerita tentang kejadian di tahun 1965 mengenai orang Bali yang dibunuh oleh PKI karena perbedaan politik (24/2).

Acara penutupan “Bulan Pram” ini diakhiri dengan acara yang meriah tapi sederhana dan memukau. Taman baca Kesiman membuat acara yang bertema Diskusi “Hantu Pemberedelan Buku Di Zaman Orde Baru”. Isi dari acara ini yaitu membicarakan tentang pemberedelan buku pada zaman Orde Baru, dimana banyak buku yang dilarang untuk diterbitkan. Kebanyakan buku dilarang di Indonesia dikarenakan alasan ideologis, dianggap membahayakan Pancasila, meresahkan masyarakat, dan juga buku yang mengandung komunisme dan sosialisme hingga karena ditulis oleh lawan politik. Selain itu juga ada lapak buku dan zine dari beberapa perpustakaan yang ada di Bali, diantaranya: I Ni Timpal Kopi, Buku Mahardika, Perpustakaan Jalan Denpasar, Taman Baca Kesiman dan Rak baca Denpasar Kolektif. Selanjutnya, puncak acara “Bulan Pram” pada malam hari dimeriahkan oleh Jamming Music DJ dan berdisko ria (28/2).

Acara serupa ini merupakan acara yang bersifat mendidik jiwa dan pikiran masyarakat untuk kritis dan peduli terhadap kemanusiaan disekeiling kita. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secuil Kisah Di Pagi Hariku

Buku: Jendela Dunia?

Inginku