Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Diantara

Tiada kala hatiku terbelenggu Tapi hasrat memiliki begitu menghantui Merampas rasa lelahku yang kian menyiksa Rindu-rindu-rindu Dendam rindu tak ingin bertemu Tapi malah tuan-tuan ingin berjamu Benar adanya, Serpihan kaca hangus bila dibakar Dan daun ijo beraroma tajam lebih nikmat dari asupan makanan

Inginku

Sekarang aku memulai hidup penuh dengan cinta dan ciita; Cinta untuk diriku sendiri dan untuk orang disekelilingku; Tiada tempat bercerita bagiku sudah hal biasa; Mengadu rayu dan kasih untuku juga sudah sirna sejak lama; Aku hanya merasakan kegelisahan yang ada; Menatap sudut ruang yang ada di benak sanubari; Dan memutarkan otak untuk berfikir kesana lemari; Aku mulai jenuh dengan perjalanan cinta sejati; Aku memilih untuk mencintai diriku hidup hingga mati Menaklukan tantangan demi tantangan hari ini dan esok nanti; Menyosong masa depan gumilang yang menanti datanngnya hari; Ibu pertiwi telah berjanji Untukku kini dan nanti Selamat malam, Selamat tidur, Semoga mimpi indah.

Bunga dan Matahari

Aku mencintaimu bak bunga dan matahari; Bunga yang selalu bermekaran; Menjelma menjadi wewangian Dan kau memberi ruang cahaya disetiap gelap; Manakala waktu tak dapat berputar; Akan kupastikan aku melukismu di hatiku.

Alur

Sendu melagu Merdu bersua Diam-diam menikam ' Berbincang marah tak tahu arah Seperti pertigaan yang tak searah Angin-angin yang tak berfaham Menjauh pergi mengikuti air mengalir Dari hulu ke hilir

Tak Ada Beda

Masih sama Merasa tidak ada tempat beradu kembali Semua hilang dan kosong Menarik ulur hati yang kini terbelah Tak bisa menyatu seperti ranting pohon Kala purnama memakan bulan di langit Seonggah ladang tak mau menghijau kembali Aku tak tahu kini ku sedang lara apa bahagia, Merasa menjadi manusia sendiri Hidup sendiri tanpa ada kepedulian dari orang lain Entah aku tak merasa apa memang begini adanya Mencoba untuk tidak berpikir Tapi air mata terus mengalir Bertubi tubi masalah sillih berganti Seakan esok aku tak bisa hidup kembali Sakit dan mati

Di Stasiun

Jika kau beranggapan seburuk-buruknya tempat adalah stasiun, aku setuju. Tempat dimana kita dipertemukan namun tempat kita dipisahkan. Lalu dipertemukan lagi dan pada ujungnya kita dipisahan kembali, Terus begitu tiada ujungnya.. Tak banyak orang yang mengagumimu, Tak banyak juga orang yang membencimu, Sesuatu yang dapat ku petik darimu cukup membuatku termenung, Bahwasanya.. Sesuatu yang ada didepan mata tak selamanya ada Arogami itu terbang dan menghilang dalam sekejap mata Dan mata kita tak dapat melihat seperti pepatah yang mengatakan, "sejauh mata memandang".. Berbeda lagi dengan hujan, Dia datang dengan tiba-tiba dan; Pergi menghilang begitu saja, Sedang kita, tahu kapan kita akan berjumpa dan kapan kita akan berkata "sampai jumpa" Namun, tempat ini menjadi saksi perjumpaan dan perpisahan Hingga menyadarkan akan pahitnya kepergian dan ucapan selamat jalan...

Sementara Begini Dulu

Aku tak pernah tahu kapan Tuhan akan mempertemukan kita Namun aku percaya bahwa pertemuan itu ada, pasti ada Sebab takdir saat ini belum perpihak dengan kita Entah esok hari, lusa, minggu depan atau suatu hari nanti Kita akan dipertemukan dengan rasa rindu yang sehebat-hebatnya Bersabarlah.. Kita sedang menempuh jarak yang jauh Lantas nikmatilah perjalananmu dan berdaimalah dengan suasana Jangan bosan dengan ilalang-ilalang yang ada didepan sana Ilalang itu akan musnah dan kamu akan melewatinya Fokuslah pada tujuanmu Disana, di tempat itu kita akan bertemu Dan diruang itu aku pasti akan menemuimu

Fenomena Nyata

Kamu terlalu sibuk menghitung keledai yang ada di ladang gandum Dan kau abaikan raja singa keras mengaum Tak kau cobakah, mencari keadilan dalam dunia yang fana ini?  Sudahkah kau larut dalam alunan melodi kehidupan di luar angkasa sana?  Manusia. Lagi, lagi dan lagi.  Kita terlalu rapuh untuk membangun pagar besi sendiri Banyak guna-guna yang selalu terbayang di angan-angan Aku mengisyaratkan permata seperti perbuatan setiap insan Dia berkilau, jika tak dibiarkan kehujanan  Dia akan tetap cantik, bila tak disentuh dengan amarah Harganya mahal seperti harga diri manusia Tapi mengapa manusia selalu mencari celah kesalahan?  Tak kau ingatkah apa yang kau cari di dunia ini? Ya, benar.  Kebahagiaan.  Itu saja?  Mengapa kau tak mencari kefahaman yang mendasar Yang sangat jelas, pemicu dari segala masalah yang timbul dengan rasa bersalah Entah, aku tak mengerti Yang ku tahu angin selalu berhembus untuk ku hidup hin...

Aku dan Januari

Lembaran baru telah ku mulai sejak hari ini. Pergantian tahun bukan hal yang aku dambakan. Namun, sebagian besar orang berkeliaran kesana kemari dengan senang hati. memenuhi tempat di sudut ruang kota. Jalanan ramai, macet, suara motor terus menyala tiada henti membuat pening kepalaku. Aku merasa jengah dengan adat orang sekitarku yang selalu merayakan pergantian tahun. Apa bedanya dengan tanggal 30 ke tanggal 1 di bulan yang lain. Tapi itu semua memang pilihan mereka. Bagi mereka yang suka euforia tidak dilarang di negeri ku ini. Tapi bagi aku, itu adalah masalah. Kini hari telah berganti. Tahun telah bertambah usia lebih tua. Seperti umurku yang menginjak masa dimana aku harus berpikir layaknya orang tua. Menata hari untuk menyibukan diri, mewujudkan resolusi tahunan, mempikirkan segala sesuatu yang hari ku hadapi hingga berganti tahun berikutnya lagi.  Dimulai dari bulan Januari yang katanya kependekan dari hujan sehari hari. Coba ku lihat awan dari balik jendela. Mend...

EGO

Hallo? Kemana aja gak ada kabar? Sibuk banget ya? Aku sekedar mau nanya. Are you okay?  Kamu udah gak pernah ngabarin aku lagi ya sekarang. Kita udah gak pernah ngobrol bareng lagi. Chat aja juga gak ada yang ku terima.  Kamu menganggap hubungan kita gimana sih? Apa kamu masih merasa baik baik saja selama aku?  …  Gantian aku ya yang cerita.  Jadi, selama ini aku memendam sakit. Ngerti? Aku selama ini selalu ikut alur jalanmu. Tanpa komunikasi dan ada space untuk kita bertemu. Oke. Dari situ aku merasa. Gaya pacaran kita memang berbeda. Selamat, saat ini kamu telah menjadi dirimu sendiri akan segala penghakiman dirimu sebelumnya. Namun, disini aku berbeda, Aku sakit, memendam, mencoba mengerti, menurunkan ego, aku pikir aku banyak mengorbankan perasaanku sendiri. Aku pikir aku bisa berjalan dengan pondasimu seperti itu. Ternyata tidak. Bukan belum. Karena aku telah mencobanya lebih dari satu tahun lamanya. Satu tahun bukan waktu yang cepat. Me...