Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Isyarat Rindu

Pohon belukar tumbuh disebelahmu Menanam rindu yang tak bisa dijamu Sayap burung mengatup ramu Membelah daku ingin bertemu Kekasih kecilku Selalu tersenyum meski hatiku Berwarna  keluh Membawa tidur Semak berhujan Kota kenangan Mengatup resah Malam-malam ia terbangun Kekasih kecilku Menabur rindu

Kota Tuan

Menjulang tinggi cerobong asap cerobong asap ditengah kota  Mangkok langit tampak kelabu diselimuti dengan awan hitam  Senjakala telah hilang dengan seruan seram sang matahari tebenam  Namun, kota itu tetap hidup seperti kesurupan hasrat yang menyiksa  Seakan terus dan menerus untuk melihatnya dalam kecantikan angkuh pada semesta Kota telah dihancurkan oleh api dan basah kuyup oleh darah Baling-baling cuaca, menara/menara nampak menyusut dan mengecil berimpit padat pada bumi yang tenang dan sunyi Kini matahari telah tenggelam  Meninggalkan seribu rasa berhamburan malang Senja terlipat dalam kehangatannya  Pohon-pohon dan dahan-dahannya yang besar mulai tak bergerak dalam kesunyian kandungan bumi  Langit diselimuti awan yang tak ada bintang terlihat  Hanya langkah langkah penguasa yang terdengar dalam kesunyian malam  Hari semakin malam tanpa suara yang terjaga  Berlindung pada mantel gelap yang jauh darimana ...

Naungan Pillu

Ku pikir kau adalah teman ceritaku  Iya, itu dulu  Sekarang kau sibuk dengan hal yang baru Iya, buatku kaku  Mau ku sapa tapi seperti tak punya rasa malu Tidak, bukan itu. Lebih ku tak mau tahu  Sebenarnya banyak rasa ku untuk menjamu  Tapi bahuku telah basah diburu sendu Gelombang kasih sedang tak mau menau Nyala nya semakin redup membilu  Heii, ini aku!  Penikmat sendu tanpa ragu  Membela diri sambil merindu  Tak hanya itu  Tubuhku terlanjur layu menunggu  Sungguh,  Ku takmau bertemu

Jalan Hidup Maria

Menjalani hal sulit sungguh membuatnya beranjak pasti Cuitan orang yang nyinyir sembari menari nari Membuka mata hati untuk selalu merasa peduli Repostase jalanan seakan memberi pesan Bahwa kehidupan tak hanya ada di sisi jalan Melainkan hidup berjalan dan berdampingan Suatu ketika Maria enggak berbicara Menjulur lidah hanya sebatas untaian kata Sesinggahnya dia diatas lonceng berselambu bening Menimbulkan bunyi yang tak sedikit nyaring Terdengar ocehan kian merenggut hatinya Seakan terjarah seluk beluk hidupnya Tapi Maria tak selalu marah Disembunyikan nalurinya untuk meredam amarah Sungguh perasaan pedih yang dilandanya Tapi kota tak pernah nampakkan sendunya

Kotak Nama, Masa Lalu

Maaf jika akhirnya aku nyaman dengan yang lain Dengan suasana yang baru Dengan hati yang baru Dan dengan kasih sayang yang baru Maaf bila sebelumnya masih ku balas pesanmu Masih ku  balas senyummu Masih ku belai tanganmu  Jangan anggap aku jahat Aku hanya ingin bersilatuhrahmi denganmu Dan pada suatu ketika kehadiranya membuatku lebih untuk memilih Bukan karnamu tak menjadi prioritasku Tapi karena aku letih dengan suasana yg dahulu Dahulu aku yang selalu kau sibukkan untuk menunggu balasan darimu, kabarmu dan semua tentang mu yg tak kunjung hadir Kau tahu itu? Kini ada seseorang yang mampu ku nanti kabarnya dan pasti datangnya Aku hanya ingin menyapamu, masalaluku Bukan untuk memilikimu lagi Semua sudah ku jadikan satu dalam kotak nama yaitu masa laluku Dan nanti aku akan kembali bukan untuk kembali Tapi aku kembali untuk bersapa Hai, apa kabar? Bagaimana kamu sekarang? Yaaa .. Cukup itu saja. Tentang yg lain. Itu adalah milikmu, bukan miliku. Bu...